JAMPI-JAMPI MBOK PARMI

   “Mbok, lagi baca jampi jampi?” tanya Lala sambil melongokkan kepala. Mata bulatnya menatap Mbok Parmi.

   “Neng Lala ini. Tahu kata jampi-jampi dari mana?” Mbok Parmi terkekeh geli.

“Jampi-jampi itu kan mantra kayak punyanya Harry Potter. Kata Kiki, orang Indonesia zaman dulu juga punya mantra, namanya jampi-jampi. Dibacanya komat-kamit gitu. Bisik-bisik,” sahut Lala polos.

Mbok Parmi tertawa.  Lala yang diasuhnya sejak masih bayi memang sangat cerdas. Mudah saja dijejali sesuatu hal yang baru.

“Ini jampi-jampinya,” jawab Mbok Parmi sambil tersenyum. Diangkatnya Al Qur’an yang semula tertutup mukena.

Lala mengernyitkan matanya, lalu masuk ke kamar Mbok Parmi.

“Mbok lagi ngapalin ini,” bisik Mbok Parmi.

“Al Quran diapalin semua? Memangnya Mbok mau ujian?”

Mbok Parmi kembali tersenyum. “InsyaAllah kalau hafal Al Quran, Allah akan kasih kebaikan, keberkahan, kenikmatan di dunia, dan pertolongan di hari kiamat. Juga akan ditinggikan derajatnya di surga. Mbok baru mulai ngapalin jus tiga puluh. Neng Lala mau juga?”

“Lala saja belum lancar baca Quran. Dulu mama mau nyariin ustazah buat ngajarin. Tapi mama sibuk. Lupa atau belum sempet kali,” kata bocah berumur delapan tahun itu sambil mengangkat bahu.

“Kalau Neng Lala mau, ayo belajar ngaji tiap hari sama Mbok. Sehari selembar, lama-lama juga lancar.”

Lala mengangguk setuju. Sejak sore itu, kamar Mbok Parmi menjadi tempat yang nyaman untuk belajar mengaji.

 

***

 

Lala senang mama membuka usaha baru di rumah. Artinya, mama tidak perlu lagi berangkat pagi-pagi ke kantor dan pulang ke rumah larut malam seperti selama ini.

“Mbok mau ke mana?” tanya Lala heran saat melihat Mbok Parmi mengemas pakaian ke dalam tas besar.

“Mbok mau pamit, Neng. Mau momong cucu di kampung,” jawab Mbok Parmi.

“Mbok jangan pulang! Lala nanti ngaji sama siapa?” tanya Lala sambil menahan air mata.

“Kan sekarang mama di rumah. Waktu mama banyak buat neng Lala.”

Lala memeluk Mbok Parmi erat-erat.

“Neng, ini Mbok kasih kenang-kenangan,” kata Mbok Parmi sambil memberikan Al Quran miliknya. Al Quran yang sama dengan yang biasa digunakan untuk belajar mengaji bersama.

“Mbok nanti ngaji pakai apa?”

“Mbok punya lagi yang lebih besar,” jawab Mbok lembut. “Neng Lala sekarang sudah pinter ngaji. Sudah banyak hafalannya. Neng Lala  harus janji sama Mbok, rajin ngaji tiap hari ya? Biar jampi-jampinya makin banyak.”

Lala mengangguk sambil tersenyum. Pipinya basah.

 

***

 

Hari ini penutupan festival ramadhan di sekolah Lala. Mata mama berkaca-kaca, terharu melihat Lala berdiri di panggung sambil membawa dua piala.

“Selamat ya, Bu. Lala juara satu lomba tilawah dan hafalan Quran,” kata seorang ibu di samping mama.

“Lala harus nelpon Mbok Parmi, Ma. Mau ngucapin terimakasih dan ngasih kabar kalau Lala juara. Pasti Mbok senang,” kata Lala begitu tiba di rumah.

Lala berlari ke arah telepon di sudut ruangan. Tidak sabar untuk berbagi kabar bahagia.

Anak Mbok Parmi menyapanya. Mengabarkan berita duka mengejutkan. Mbok Parmi meninggal maghrib tadi. Air mata Lala tidak terbendung..

“Kalau kangen Mbok, Lala bisa baca Quran. Lala doakan Mbok. Mbok pasti bahagia,” kata mama sambil menyeka air mata di pipi Lala.

Lala berjanji dalam hati. Akan rajin mengaji setiap hari.

1 thought on “JAMPI-JAMPI MBOK PARMI”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *